Make your own free website on Tripod.com
Buku Tamu
Baku Dapa
K4
Daftar Situs
Kontak
Ba'stel
Plakat
Nuwu
Artikel
Info Korea
Ang Kasuruan
Makatana
Tumembo
Kumantar
Grap-grap
chat

BakuKaseIngaa

Kurs (Won) To (Rp)

Nilai Situs Kami
@ SearchIndonesia

Bola dan Nasionalisme

Oleh Veldy Reynold


Kick off perhelatan akbar pegila bola telah dilakukan. Dunia pun seperti lupa dan bahkan menyampingkan urusan pelik lalu mengendorkan urat saraf sambil menikmati pesta bola yang baru pertama digelar di Asia.


Koran-koran menulis sekitar 42 milyar pasang mata terpejam menanti setiap gerak kaki, gol, dan kemenangan dari 32 tim yang berlaga di dua negara tetangga, Korea Selatan dan Jepang. Jadi, pesta sudah dimulai, dan Kim Dae Jung berharap semua dapat melupakan peristiwa berdara 11 september lalu. Melupakan sesaknya pertikaian yang menghimpit dalam suatu "fair play" yang melibatkan 736 pesepakbola kesohor seantero jagad. Lagi pula, Kim masih bisa berharap untuk gain politik atas suksesnya penyelenggaran FIFA World Cup setelah skandal anaknya mengurangi respek masyarakat Korea atas dirinya. Dan tentang masyarakat Korea, Samsung Economic Research Institute Survey melaporkan bahwa, 50,4 persen dari 5690 responden sepakat even ini bagus untuk publikasi serta membangun image positif di mata internasional.
Setelah selama ini, Korea Selatan telah dikenal sebagai negara yang nasionalismenya tinggi, yang diikuti dengan penolakan terhadap produk-produk non Korea. Masyarakatnya cenderung tertutup terhadap warga negara asing, seperti juga pemerintah yang tampak keras memperlakukan undang-undang yang berhubungan dengan status orang asiang di Korsel. Ketertutupan masyarakatnya akan dunia luar pun diikuti oleh minimnya penguasaan bahasa Inggris masyarakatnya. Dan jangan kaget, kalau lulusan SMP kita jauh lebih bisa berbahasa inggris dari pada mereka yang tamat college. Dus, even-even seperti ini menjadi sangat bermakna bagi kampanye Korsel dalam membangun imej di mata dunia internasional. Hanya saja, saat pembukaan kemarin segalanya tampak biasa-biasa saja. Subway yang pada hari-hari keja sangat sibuk, malah tampak agak sepih dan tak tampak sumbatan botol (macet lantarang padat, red) atau pun banjir manusia disekitar stadion. Untuk ukuran pesta akbar FIFA world cup, pembukaan kali ini boleh dibilang sepi dan tak meriah. Sekolah-sekolah tetap belajar seperti biasa, demikian juga kantor dan pabrik-pabrik. Semua biasa-biasa saja. Seperti tak ada yang istimewa dengan even yang telah menghentak dunia. Kecuali petugas keamanan yang tampak dimana-mana menjadi pemandangan sekitar arena pembukaan world cup. Tak kurang dari 420, 000 polisi telah diterjunkan untuk pengamanan world cup plus sukarelawan yang ikut ambil bagian. Sementara sekitar 37 ribu pasukan Amerika Serikat yang berada di pangkalan-pangkalan Amerika di Korsel pun disiagakan sebagai "jaga-jaga" bila mana kejadian 11 sept terulang lagi.
Bila diamati nilai suksesnya pembukaan World Cup melalui ukuran antusiasme masyarakat Korea, maka tampak ada goresan merah pertanda kurang bergairahnya minat masyarakat korea menyambut penyelenggaraan FIFA World Cup. Namun itu masih dalam tanda kutip. Park Yong pegila bola yang bertemu saya diluar stadion memberikan alasan singkat dan jelas. "Kami hanya tertarik pada tim kami, bukan tim asiang,"jelasnya. Kembali urusan nasionalisme menjadi soal yang paling pokok. Bagi mereka, memenangkan pertandingan di piala dunia sama bermartabat dengan memenangkan perang dimedan tempur. Analogi perang pun disamakan dengan perjuangan Tim Korsel di laga world cup, hingga slogan KTF (Korea Tim Fighting) sontak menjadi themesong seluruh rakyat Korsel. Jadi antara hobi bola dan nasionalisme jelas bedanya. Masyarakat tidak semua gila bola, tapi memenangi setiap pertandingan adalah impian seluruh rakyat Korsel.